Sejak tadi ada yang kuresahkan. Bukan hanya sejak tadi, sejak
kemarin, sejak minggu lalu, sejak bulan lalu, uuum sejak kamu pergi
jauh meninggalkanku, duniamu dimasalalu.
Sepertinya air mata sudah terlalu bosan jatuh dari indra
penglihatanku. Bukan hanya bosan pasti juga benci. Sebenarnya air mata
yang jatuh merembes kepipi ini sering sekali memakiku. Bodoh! Itu
katanya. Yayaya benar yang dia ucap, aku sangat sangat bodoh. Kalau
saja aku cukup pintar, tidak ada tetesan-tetesan itu. Hahaha tapi
sayangnya aku sudah tertular bodohmu, bedanya kamu bodoh telah
meninggalkan aku yang begitu tulus padamu dan aku menangisi sibodoh
seperti kamu.
Mati!! Haha sampai saat ini pun perasaanku belum ku sahkan mati
untukmu. Aku menganggap kamu hanya tidur dan bermain-main saja dalam
mimpimu dengan seseorang itu. Lantas, ketika kamu membuka mata yang
terlihat hanya aku. Aku si setia yang tanpa sedetikpun pergi dari
sisimu.
Mati!! Terbalik. Ya kamu benar-benar telah menganggapku tak ada
lagi didunia. Sebebasmu kau hirup nafas yang sebagiannya hembusan udara
dariku. Kau hanya menganggapku barang yang tak perlu diingat, sampah
dan hal-hal menjijikan lainnya. Memetikan semua kenangan dengan kayu
paling kuat. Mengubur segala kisah dengan tanah coklat tua. Bahkan
menisankan masa lalu dengan batu termahal. Kamu meninggalkanku dengan
hal indah kemudian melupakanku sendiri mengais-ngais harapan untuk bisa
keluar.
Kamu. Aku selalu memaafkanmu. Tenang saja, aku tak pernah berdoa
supaya kamu mendapatkan hal yang sama seperti aku. Aku bahkan berdoa, agar
kamu mendapatkan gadis yang mencintaimu melebihi cintaku padamu. Jangan
biarkan dia menangis sendiri seperti diri ini. Cintai dia melebihi
cintamu padaku dulu.
Aku. Masalalu yang telah kau nisankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar