aku hidup bersama tulisanku

Jumat, 08 Maret 2013

Menisankan Masalalu

Sejak tadi ada yang kuresahkan. Bukan hanya sejak tadi, sejak kemarin, sejak minggu lalu, sejak bulan lalu, uuum sejak kamu pergi jauh meninggalkanku, duniamu dimasalalu.

Sepertinya air mata sudah terlalu bosan jatuh dari indra penglihatanku. Bukan hanya bosan pasti juga benci. Sebenarnya air mata yang jatuh merembes kepipi ini sering sekali memakiku. Bodoh! Itu katanya. Yayaya benar yang dia ucap, aku sangat sangat bodoh. Kalau saja aku cukup pintar, tidak ada tetesan-tetesan itu. Hahaha tapi sayangnya aku sudah tertular bodohmu, bedanya kamu bodoh telah meninggalkan aku yang begitu tulus padamu dan aku menangisi sibodoh seperti kamu.

Mati!! Haha sampai saat ini pun perasaanku belum ku sahkan mati untukmu. Aku menganggap kamu hanya tidur dan bermain-main saja dalam mimpimu dengan seseorang itu. Lantas, ketika kamu membuka mata yang terlihat hanya aku. Aku si setia yang tanpa sedetikpun pergi dari sisimu.

Mati!! Terbalik. Ya kamu benar-benar telah menganggapku tak ada lagi didunia. Sebebasmu kau hirup nafas yang sebagiannya hembusan udara dariku. Kau hanya menganggapku barang yang tak perlu diingat, sampah dan hal-hal menjijikan lainnya. Memetikan semua kenangan dengan kayu paling kuat. Mengubur segala kisah dengan tanah coklat tua. Bahkan menisankan masa lalu dengan batu termahal. Kamu meninggalkanku dengan hal indah kemudian melupakanku sendiri mengais-ngais harapan untuk bisa keluar. 


Kamu. Aku selalu memaafkanmu. Tenang saja, aku tak pernah berdoa supaya kamu mendapatkan hal yang sama seperti aku. Aku bahkan berdoa, agar  kamu mendapatkan gadis yang mencintaimu melebihi cintaku padamu. Jangan biarkan dia menangis sendiri seperti diri ini. Cintai dia melebihi cintamu padaku dulu.


Aku. Masalalu yang telah kau nisankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar