aku hidup bersama tulisanku

Jumat, 08 Maret 2013

Apalah arti menunggu ?

Sebenarnya aku sudah cukup lelah menantikan senja di tiap pagi dan mengharapkan malam cepat beranjak menjadi siang begitu selalu begitu yang aku lakukan untuk mengurai kerinduan yang selama ini terpendam. Tapi... Tak ada yang bisa aku lakukan selain menghitung berapa senja dan pagi lagi yang aku butuhkan untuk bisa bertemu kau lagi? Disini, ditempat terakhir kau memeluk erat dan berkata "aku akan segera kembali" -------

"Anaaaaa ..... Aku seneng banget. Liat deh liat!" ucapku pada gadis berambut ikal coklat kemerah-merahan itu.

"Apa-an deh Nai? Sakit nih" Ana memegang pundaknya bekas cengkramanku.

"Nih bacaaa sms dari Kak Dala. Dia akan kerumahku nanti malam" Aku melompat-lompat tanpa sadar.

"Aku ikut seneng Nai, tapi kamu yakin kali ini dia bakal nepatin janjinya? Udah berapa kali dia buat janji tapi malah dia yang selalu ingkarin."

"iya tahu .. Tapi, kali ini aku percaya kok. Aku yakin kalau kali ini Kak Mandala bakal dateng dan 'nembak' aku An! Doain ya An. Aku bener bener gak bisa nunggu lama lagi nih.

"Aaamin, aku pasti doain kok, kalau kamu bahagia pasti aku juga bahagia kok. Kita kan sahabat" Ana mengacungkan jari kelingkingnya, sama denganku aku menautkan kelingku di bersama jarinya.

-----

malam yang aku harapkan datang juga.. Malam ini terasa dingin sekali, entah kenapa. Dalam dadaku pun jantung ini berdetak tak karuan menanti apa yang akan dikatakan orang selama ini ku puja. Kakak itu, kakak yang jangkung itu dialah orangnya. Dia yang mengajakku dalam payungnya saat aku kehujanan dijalan, dia yang memujiku saat aku mendapatkan posisi ketua paduan suara disekolah dan dia adalah orang yang memanggilku Rinai tanpa memotongnya menjadi Nai. Aku suka dia dan aku harap juga sebaliknya.

malam semakin dingin, sweater biru yang ku kenakan pun belum mampu menawarkan rasa hangat. Dua puluh menit aku duduk di bale depan rumahku. Dua puluh menit lebih aku berkutat dengan fikiranku sendiri, Kak Mandala belum datang juga.

Sebenarnya mudah saja, aku tinggal masuk kedalam rumah saat dingin seperti ini. Tapi ada hal yang menghalangiku, perasaanku mengatakan bahwa dia akan segera datang dan aku tidak mau mengecewakannya sekalipun aku tahu dia sangat sering membuatku kecewa.

Jam ditangan akhirnya menunjukan pukul 07. 45 wib. Sudah lebih 45 menit dari waktu yang dijanjikan. Ahh aku menyerah dan aku rasa dia memang hanya ingin mempermainkanku.

Aku merasakan jantungku remuk lagi, entah untuk keberapa kali. Aku berjalan gontai menuju pintu utama rumah. Sejenak sebelum aku membuka pintu, ada suara yang tak asing lagi aku kenal suaranya.

"Rinai .." panggilnya lembut.

aku menengokan kepalaku kebelakang dan kudapati Kak Dala datang dan dia tidak menipuku kali ini. Aku menghampirinya dan tersenyum manis padanya. Kedatangannya meluruhkan semua kerapuhanku tadi.

"kak .. Datangnya lama sekali" ujarku sembari menghapus air mata yang sempat tertahan ditempatnya.

"Maaf yaa .. Aku tadi beres-beres barang dulu"

"Hmm.. Yaudah deh gapapa kak. Oh iya, sebenarnyaa kakak datang kesini ada apa? Ada hal yang penting perlu dibicarain ya?" ujarku terlalu pd.

"Iya ada, ini tentang aku dan kamu Rinai. Tentang kita"

" dug.. "

"Rinai, kamu bilang kamu suka sama Mickey Mouse kan?"

aku menganggukan kepala dengan semangat.

"Kakak bawa ini .." Ia mengeluarkan boneka teddy bear besar, dan tidak ada unsur Mickey Mouse sama sekali.

aku mengernyitkan dahiku.

"Kok Bear kak? Tadi perasaan nanyanya tentang Mickey deh" aku manyun.

"Maaf ya Rinai, kakak udah usahain keliling cari boneka Kesukaanmu tapi susah. Kakak janji kalau kakak dateng lagi nanti, bakal bawa yang lebih gede dari ini nanti" ujarnya agak kecewa.

"hahahaha .. Hahaha becanda kali kak, aku gak matre kok. Cuma sedikit bingung tadi. Tapi kok kakak kasih aku hadiah? Hari ini kan bukan ulang tahunku?" aku mengodanya lagi.

"Emang bukan Rinai" dia mengacak acak poniku.

"Terus ..?"

"kakak bingung mau mulai dari mana? Gimana ya, tapi kamu janji jangan nangis atau marah sama kakak ya?"

"Iya janji, lagian masa habis dikasih hadiah nangis. Emang apa sih kak? Penasaran."

"Sebenernya kakak mau... Hm.. Kakak mau pamit Rinai."

"Pamit? Kakak emang mau kemana?"

"Tuh tuh udah mulai mau hujan, jangan nangis Rinai. Kakak harus pindah, pindah rumah dan pindah sekolah juga. Jadi mungkin ini hari terakhir kita ketemu."

"Kakak serius? Kak aku gak mimpi kan? Kakak kenapa baru ngomong kaya gini sekarang kak! Kenapa kak?" amarahku meledak.

"Rinai, kamu kan udah janji gak bakal marah dan nangis. Gak boleh gini ahh, mana Rinai kakak yang ceria"

"Kakak jahat! Rinai kira kakak peduli sama Rinai. Nyata? Nggak kak. Aku kira juga malam ini bakal hari bahagia aku kak! Kakak menemuiku untuk membalas perasaanku ternyata untuk pergi meninggalkanku. Aku benci kakak. Benci kak." Aku tak mampu lagi menahan air mataku.

tiba-tiba Kak Dala memelukku dia membisikan beberapa kata ditelingaku.

"Rinai, kakak selalu peduli dan sayang sama kamu. Kakak juga mau nanti saat kita udah sama-sama dewasa kita bisa sama-sama lebih dari sekarang. Kakak janji Rinai, kakak akan sering datang kesini. Dan sesuai janji kakak, kakak bakal bawa boneka kesukaan kamu"

aku membalas pelukannya. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. "kak, bagaimana kalau kita LDR?"

"Rinai, mengertilah kalau kita berhubungan sekarang pasti akan banyak masalah. Kita jauh kan? Kakak gak mau kamu selalu kepikiran kakak terus. Kalau kita berjodoh pasti kita bakal dipertemukan kembali kok."

aku membuang nafasku keras! "tapi kak Dala tetap kakak aku kan? gak berubah kan? Janji bakal sering dateng kesini nemuin aku kan?"

Ia membalasku dengan senyuman dan anggukan. Aku bahagia dan aku akan mencoba untuk merelakan kepergiannya.

ternyata malam ini masih kalah dingin dengan perasaanku saat ini. aku harus memnunggunya. HARUS!!

-------

akhirnya malam dingin ini datang lagi.. Ini tahun ke-empat setelah kepergian kakak kesayanganku. Dan selama itu pula, aku tidak pernah sedetik pun bertemu dengannya. Aku hanya mendengarkan suaranya melalui pesawat telpon dan itu pun jarang sekali sangat sangat jarang. Dia tak akan pernah membalas pesan singkatku kecuali ia sedang tidak sibuk. Dan ketidak sibukannya itu juga sangat sangat jarang ada. Sebenarnya aku lelah dengan permainan bodoh ini. Setiap malam aku menunggu untuk dia yang terlebih dahulu menghubungiku. Karna jika aku yang menghubungi akan percuma, pasti diacuhkan.

Aku bagaikan apa? Aku juga tidak tahu. Aku selalu terhipnotis dengan semua janji-janjinya yang aku percayai. Sampai aku tidak pernah menerima pernyataan cinta siapapun demi dia, Mandala Aditya.

Aku menunggu .. Dan entah sampai kapan aku menunggu.

-----

handphone hitamku bernyanyi riang pertanda ada panggilan masuk. Aku bingung aku angkat atau tidak. Perang batin pun terjadi. Sekarang aku sedang hang out bersama teman sekelasku waktu SMA. aku tidak mau mengecewakan mereka, tapi aku juga tidak mau menyianyiakan kejadian langka ini. Dan akhirnya aku pamit sebentar pada teman teman sedangkan aku mengobrol panjang dengannya. Lagi lagi aku terhipnotis dengan kata-katanya.

-----

Aku membuka akun Fbku seperti biasa aku mengecek notif yang ada setelahnya aku membaca hiburan yang terlintas diberandaku. Aku sedikit tercengang saat ada yang lewat diberandaku " Maurin anitya dan Mandala Aditya sekarang berteman". Aku mengecek, kalau kalau itu memang Kak Dala. Dan ternyata benar itu dia. Banyak sekali hal yang membuatku makin merasa 'down' selain dibohongi. Aku tahu Kak Dala sibuk jadi aku percaya saat dia bilang dia tidak punya akun sosial media. Tapi .. Masih adalagi, PP nya memang dia tapi bersama gadis lain yang sama sekali aku tak kenal. Dan yang lebih menyakitkan lagi dia mencantumkan kalau dia berpacaran dan aku yakin dengan gadis yang ada di fotonya.

"Kak, kurang baik apa aku kak? Aku sudah merelakan apa yang aku punya, buat kakak cuma buat kakak. Tapi kenapa kakak tega bohongin aku? Kenapa kakak gak bilang aja kakak udah punya pendamping biar aku gak ngerasa diberi harapan kosong kaya gini? Kak, yang paling menyakitkan bukan aku tahu kakak sudah punya gadis itu tapi aku sakit ternyata pengorbanan panjang aku berakhir sia-sia" lalu ku klik send kepada kontak bernama 'Dala'

aku tidak mengharapkan smsnya dan aku tahu dia pasti tidak akan membalasnya karna 'kesibukannya' aku ingin sekali teriak, teriak sekuat kuatnya kalau bisa didepan kamu sekalian. 'sebenernya apa arti menunggu yang aku lakuin buat kamu! Jika aku boleh memilih, bolehkah aku memilih untuk membencimu walau sulit"

----

tanpa sengaja radio kesayanganku memutarkan lagu yang sesuai dengan perasaanku selama ini " RAISA- APALAH ARTI MENUNGGU" aku menangis, tidak salah bukan ? ini terlalu pedih. setidaknya untuk diriku sendiri. ahh aku lelah, walaupun cinta butuh pengorbanan apa harus segininya ?

kakak cantik, kekasih kakakku.



kak, kak, kakak cantik. Iya kakak yang berambut hitam, kakak yang berwajah ayu, kakak yang berhasil meraih kakak tampan kesayanganku. Sebenarnya kita seumuran, tapi karna kau kekasih kakakku bolehkan aku memanggil engkau kakak?

kak, kakak yang nama awalannya sama dengan nama panggilanku, kakak yang namanya membuat aku membenci namaku sendiri, kakak yang membuat dia, kakak kesayanganku, merapal nama kakak lebih sering daripada aku. Apa aku boleh aku membisikan sesuatu padamu?

sebenarnya ini sebuah kata-kata yang tidak patut ku ucapkan, ini sebuah kalimat yang tak pantas dijabarkan, ini sebuah perkataan yang tak layak diperdengarkan, tapi kak, aku mau jujur, aku mencintai kekasihmu.

aku tau, aku ada ditempat yang salah. Aku ada di lingkaran kecil yang seharusnya tidak pernah aku masuki. Tapi, aku tidak bisa membohongi perasaanku lebih dalam dan lebih lama lagi.

sebenarnya ini salahku, salahku yang terlalu menaruh harapan besar pada kakakku, kekasihmu. Huuft andai bisa aku menyetir hatiku, pasti akan aku arahkan kepada cinta yang lain. Ini semua sudah diluar kendali dan akal sehatku.

maafkan aku kak, maafkan aku mencintai kekasihmu. Sungguh aku tidak ada sedikit niatpun untuk menghancurkan hubungan kalian. Tak ada sekecil pemikiran pun untuk memisahkan kakak cantik dan kakak kesayanganku.

kak, sekali lagi maaf, aku telah mengganggumu bahkan dengan lancang memaksamu untuk memaafkan aku.

kak, percayalah, kakak kesayanganku sangat menyanyangimu. Dia menyayangimu lebih dari dia menyayangiku, lebih dari aku menyayangi dia. Kakak cantik, jaga kakak kesayanganku, jangan biarkan dia terluka seperti aku sekarang.

with love, adik kekasihmu. naina

Aku Juga Mau Pulang

*tarik nafas* *buang* *tarik nafas* *buang* sudah lima kali? Siap-siap baca tulisan aneh ini. Okee mulai... 1.... 2.... 3 *tutup mata* eh jangan deh, kapan bacanya-____- cus aaaaah kebanyakan bacot juga gak bagus.

*aku juga mau pulang*

hei, hallo dunia sore yang tak begitu cerah. Aku sudah siap pulang nih. Setelah ber-jam-jam duduk terpaku memperhatikan pelajaran yang sudah masuk kuping kanan namun keluar lagi dari kuping kiri.

daaaaaaannn ... yes! Aku berhasil menyebrang. Sekarang aku sudah duduk didalam angkot warna hijau tosca. Kendaraan murah terakhir yang bisa mengantarkanku kerumah bercat biru, baik bangunannya ataupun pagarnya, sebelum pukul empat sore.

Aku tidak sendirian, tapi dalam angkot ini tak siapapun yang aku kenal. Dengan sangat (terpaksa) semangat aku memalingkan wajahku kearah luar jendela. Ya menurutku ini lebih baik ketimbang harus memandang wajah sangar penumpang lain.

tidak ada kegiatanku disini selain memandang jalan raya yang hitam. Jalan yang seluruh punggungnya ditempeli garisan-garisan putih. Hitam dan putih. Persis keadaanku sekarang. kalian tahu gak ? gak tahu ya ? aku kasih tahu deh. Hidupku sekarang kusam tak secerah dulu saat dia ada didekatku. Saat dia jadi alasan tiap senyumku dan saat dia jadi penyedia tangan untuk menyeka gerimis kecil disudut mataku. Oh iya, detik ini, saat aku bercerita ini, aku belum sampai dirumah.

hei, hallo sepertinya hitam dan putih tidak hanya menjadi nasib jalan raya dan kehidupanku saja. Saat melihat keatas dari dalam angkot, langit-langit juga berwarna senada. Awan yang menggumpal memunculkan warna hitam sebagai pemeran utamanya. Karenanya keadaan yang tadi tidak cerah menjadi semakin parah. Mendung. Awan awan yang sedari tadi mual itu sudah siap memuntahkan isi perutnya kebumi. Lucunya, dalam keadaan seperti ini pun masih dia yang ada dipikiranku. Bayangkan saja, aku bagai melihat lekuk wajahnya tercetak samar-samar diawan gelap itu. Disana dia menyunggingkan senyum seperti meremehkanku yang sampai sekarang belum pulang juga.

sebenaranya aku juga mau pulang. Siapa yang mau berlama-lama di tempat ini. Aku juga mau pulang walau ketakutanku sampai ditempat tujuanku belum juga padam.

akhirnya aku malas bercengrama dengan suasana luar. Penumpang lainya sudah banyak yang turun, rumahkupun sudah tak terlalu jauh. Aku mengambil earphone yang sedari tadi singgah disaku seragam sekolahku. Lalu kupasang pada handphone hitamku. Lagi-lagi hitam dan putih.

sebelum tanganku bergerak menuju salah satu icon pemutar lagu, aku melirik sebentar gambar dasar layar handphoneku. Ini gambar terakhir yang bisa kuabadikan sebelum kepergian dia. Dua orang. Aku dandia. Kami. dia merangkulku dengan tangan kanannya dan aku juga memotret dengan tangan kananku. Lucunya, aku memakai baju putih dan dia berwarna hitam.

hei, hello kaliaaan tahu ? akhirnya aku sampai didepan gang rumahku. Aku turun dari angkot hijau tosca tadi dan berlari sampai rumah karna awan sudah kewalahan menahan muntahannya hingga membanjurkan isinya ke tubuh kecilku.

hei, hello Dan akhir aku sampai dirumah nih. tapi tahukah ? aku belum merasa benar-benar pulang. kukira sampai dirumah aku jua sampai dikehidupan nyataku. Tapi... Ternyata sama. Aku belum pulang juga, belum bisa pulang.

aku masih ditempat yang sama. Dunia khayal dan penuh imaji tentang dia. dia dan lagi-lagi dia. Duniaku imajiku indah berbanding terbalik dengan kehidupan nyata. Aku masih didunia mimpi. Disini tak ada tangis dan air mata. aku yakin karna dia ada disini, yaa Ada dia disin.i walau hanya mimpi.

jujur, aku belum berani pulang. Aku tidak siap menghadapi kenyataan kalau sebenarnya dia tak bisa lagi aku genggam dan sentuh sebab dia bukan milikku lagi. Sungguh, aku takut. Aku belum mau kedunia yang semua terlihat buruk. Karna dia sudah lebih dulu pergi kedunia sana, meninggalkan aku dan duniaku.

dia tertawa. menertawaiku. dia tertawa merasa ini lucu. Dengan sengaja menggilas habis ceriahku. memupuk dan menumpuk ratusan kepahitan itu. dia tak tahu aku terpuruk atas sikapnya? yaaa Pasti dia tak tahu.

bodohkah aku, Masih terjebak dimasa lalu?

Bodohkah aku, masih tersesat ditempat berbelenggu?

aku juga mau pulang!! Walau aku takut untuk pulang.

aku, naina..

Menisankan Masalalu

Sejak tadi ada yang kuresahkan. Bukan hanya sejak tadi, sejak kemarin, sejak minggu lalu, sejak bulan lalu, uuum sejak kamu pergi jauh meninggalkanku, duniamu dimasalalu.

Sepertinya air mata sudah terlalu bosan jatuh dari indra penglihatanku. Bukan hanya bosan pasti juga benci. Sebenarnya air mata yang jatuh merembes kepipi ini sering sekali memakiku. Bodoh! Itu katanya. Yayaya benar yang dia ucap, aku sangat sangat bodoh. Kalau saja aku cukup pintar, tidak ada tetesan-tetesan itu. Hahaha tapi sayangnya aku sudah tertular bodohmu, bedanya kamu bodoh telah meninggalkan aku yang begitu tulus padamu dan aku menangisi sibodoh seperti kamu.

Mati!! Haha sampai saat ini pun perasaanku belum ku sahkan mati untukmu. Aku menganggap kamu hanya tidur dan bermain-main saja dalam mimpimu dengan seseorang itu. Lantas, ketika kamu membuka mata yang terlihat hanya aku. Aku si setia yang tanpa sedetikpun pergi dari sisimu.

Mati!! Terbalik. Ya kamu benar-benar telah menganggapku tak ada lagi didunia. Sebebasmu kau hirup nafas yang sebagiannya hembusan udara dariku. Kau hanya menganggapku barang yang tak perlu diingat, sampah dan hal-hal menjijikan lainnya. Memetikan semua kenangan dengan kayu paling kuat. Mengubur segala kisah dengan tanah coklat tua. Bahkan menisankan masa lalu dengan batu termahal. Kamu meninggalkanku dengan hal indah kemudian melupakanku sendiri mengais-ngais harapan untuk bisa keluar. 


Kamu. Aku selalu memaafkanmu. Tenang saja, aku tak pernah berdoa supaya kamu mendapatkan hal yang sama seperti aku. Aku bahkan berdoa, agar  kamu mendapatkan gadis yang mencintaimu melebihi cintaku padamu. Jangan biarkan dia menangis sendiri seperti diri ini. Cintai dia melebihi cintamu padaku dulu.


Aku. Masalalu yang telah kau nisankan.