aku hidup bersama tulisanku

Rabu, 12 Juni 2013

Hujan dan Pelangi

Entah sudah berapa sering aku menulis tentang hujan. Intinya tetap sama, aku terlalu mencintai hujan. Hujan tetap satu, tetap hujan. Hujan tak berubah, tetap hujan. Tak ada yang lebih indah selain hujan, tak ada yang lain.

Hujan dan pelangi. Hujan dan pelangi sering disebut-sebut pasangan yang serasi. Dimana ada hujan, disitu ada pelangi. Sayangnya tak semua sadar, hujan dan pelangi tak akan pernah bisa bersatu. Pelangi hanya muncul ketika hujan pergi. Pelangi tak akan terlihat jika datang bersama dengan hujan. Sedekat apapun hujan dan pelangi, mereka tak akan pernah bisa bersama.

Hujan.. Dingin sekali. Sama sepertimu. Hujan, banyak dikagumi sama percis denganmu. Dan hujan tak banyak bicara, dia diam dan mengakibatkan banyak yang terhanyut dalam indahnya. Lagi- lagi sama denganmu. Satu hal lagi yang hujan miliki yang sama-sama ada padamu adalah kau tak perduli dengan orang sekelilingmu. Kau menjadi diri sendiri. Kau setia, kau menyejukan. Kau hujan, buatku.

hujan itu setia? Iya. Dia tak menghianati mendung. Walau segelap dan menakutkan apapun sang mendung. Hujan mencintai mendung, karna hujan tahu, hujan tak akan pernah bisa hidup tanpa awan-awan gelap yang menggelantung dilangit.

hujan sosok setia? Iya. Hujan memang dekat dengan pelangi. Hujan menganggap pelangi adalah adiknya, sahabatnya keluarganya. Hujan menyayangi pelangi, bukan mencintainya. Cintanya hanya untuk mendung, awan gelap itu.

pelangi sosok yang ceria. Warna warna yang terbiaskan sungguh sangat menawan. Kadang mendung iri pada pelangi. Karna pelangi tak punya warna gelap, pelangi selalu cerah sehingga siapapun yang melihat pelangi akan bahagia.

hujan dan pelangi. Mereka selalu dijodoh-jodohkan oleh seluruh anggota langit lainnya. Sayangnya hujan tetap setia, hujan tetap mencintai mendung.

pelangi bersembunyi. Pelangi hilang sementara. Dia menangis tanpa hujan tahu. Dia menangis ketika melihat diperaduan, sang hujan bergelayut mesra pada awan mendung. Pelangi tak bisa bercahaya karna ia dihalangi kemesraan hujan dan kekasihnya. Sekalipun hujan berhenti, pelangi belum mau datang lagi, mendung masih berdiri tegak seperti menantang pelangi. Tersenyum seraya bangga telah melukai perasaan kecil milik pelangi.

kemudian matahari datang. Memunculkan titik-titik cahaya lantas mengusir sedikit demi sedikit mendung angkuh itu. Membangkitkan lagi sebuah simpul diujung bibir pelangi. Melengkung dengan hebat dan memberi warna warni yang tadi sengaja disembunyikan.

hujan telah pergi namun air air yang telah jatuh kebumi masih ada. Matahari membiaskannya hingga pelangi bisa tertawa lagi. Namun pelangi tak tahu terimakasih, dia mengganggap hujanlah yang menciptakannya. Dari air-air yang tak sengaja dibiaskan matahari yang begitu mencintai pelangi.

matahari hanya tersenyum. Baginya membiarkan pelangi tertawa karna Hujan lebih baik dari pada mengajak pelangi untuk bersamanya lalu hilang karna waktu dan keadaan.

Pelangi tahu matahari mencintainya, pelangi tahu hujan lebih mencintai mendung. Tapi pelangi lebih tahu mana yang harus dia pilih. Pelangi percaya, lebih baik mencintai sesuatu yang tak akan pernah kita miliki ketimbang memiliki sesuatu yang sama sekali tak kita cintai.

(Hujan dan pelangi)